Pulang Pada Panggilan Tuhan


Judul Novel: Pulang
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 400 halaman

“Apakah pernah dalam hidupmu, kau tidak takut dengan apapun? Ketika sensasi keberanian itu memenuhi dadamu?”

            Aku mengangguk.
~~~
            Novel ini menceritakan tentang sebuah perjalanan pulang, dengan berbagai nasihat dan nilai kehidupan yang seperti biasa selalu tampilkan Tere Liye dalam setiap karyanya. Tokoh utama bernama Bujang pada bagian awal cerita digambarkan sebagai seorang anak lima belas tahun yang tidak lagi memiliki rasa takut. Rasa takutnya hilang setelah mengahadapi seeokor babi hutan besar di rimba Sumatera  yang kemudian membuat dirinya dikenal sebagai “Si Babi Hutan.” Bujang yang merupakan keturunan tukang pukul itupun meninggalkan kampung dan orang tuanya untuk ikut ke kota dan mengabdi pada keluarga Tong. Dari situlah kisah perjalanan Bujang diceritakan, ayah bujang dulunya merupakan tukang pukul di keluarga Tong, akan tetapi saat di keluarga Tong yang merupakan penguasa ekonomi di provinsi saat itu Bujang tidak ingin dijadikan tukang pukul oleh Tauke Besar yang merupakan pemimpin keluarga itu. Bujang justru di tuntut untuk belajar demi sebuah keinginan Tauke Besar.
            Selama berada di keluarga Tong, Bujang yang sebenarnya tertarik untuk seperti ayahnya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan namun juga berbagai ilmu bela diri. Hal tersebut membuat Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan mampu mengatasi berbagai masalah yang menimpa keluarga Tong. Hal ini dikarenakan keluarga Tong yang berkembang pesat menjadi salah satu keluarga pengendali ekonomi tidak terlihat yang disebut sebagai shadow economy. Selama dua puluh tahun, Bujang menemui perjalanan hidup dalam dunia gelap yang penuh pertarungan hingga ia kembali “Pulang” kepada panggilan Tuhan.
            Saat membaca bagian awal cerita ini, saya tidak menyangka bahwa kata “Pulang” yang akan diceritakan akan memiliki tujuan yang religius. Apalagi novel ini diceritakan dengan begitu atraktif dan menegangkan. Aspek dan alur cerita yang diambil oleh Tere Liye sangat menarik dengan menggambarkan sistem shadow economy, perkelahian, bahkan terdapat suatu kondisi politik terkini yang diselipkan pada bagian cerita sehingga membuat pembaca terus tertarik untuk membuka setiap lembaranya.
            Tere Liye berhasil menampilkan sebuah ide cerita yang tidak biasa serta tidak lupa dengan nilai-nilai yang selalu ada dalam setiap karyanya. Pada perjalanan Bujang selama dua puluh tahun, digambarkan bagaimana ia belajar ilmu pengetahuan dan bela diri dengan penuh perjuangan. Artinya sosok Bujang yang terbentuk menjadi orang yang kuat dan cerdas tidak lahir begitu saja melainkan dengan upaya yang konsisten. Selain itu ada pelajaran juga dalam novel ini bahwa masa lalu, saat ini, dan masa depan tidak dapat dipisahkan. Kebaikan yang pernah dilakukan orang tua kita di masa lalu, akan berdampak pada kita di masa sekarang. Dalam novel ini, juga digambarkan sebuah kesetiaan yang sejati.
“Ketahuilah nak, Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan pertempuran.”
Sebuah kalimat di atas merupakan salah satu perkataan Tuanku Imam pada Bujang. Bujang selama dua puluh tahun membenci suara adzan, karena setiap kesedihannya soalah menguap saat adzan. Dengan memeluk kebencian dan rasa sakit yang ia miliki, panggilan adzanlah yang digambarkan sebagai cara Tuhan memanggil Bujang untuk pulang. Untuk berdamai dengan hatinya sendiri. Satu hal yang  saya rasa merupakan kelebihan terbesar dalam novel Tere Liye termasuk novel “Pulang” ini. Nilai yang terkandung di dalamnya, merupakan sebuah pelajaran hidup yang kadang kala kita lupakan.
Bagian akhir novel ini juga memuaskan dan merupakan akhir yang tepat dari perjalanan panjang Bujang. Setelah dua puluh tahun, pada akhirnya Bujang pulang menjenguk pusara kedua orang tuanya dan pulang pada panggilan Tuhan. Pulang pada sebuah hakikat hidup yang sebenarnya. Novel ini adalah sebuah karya yang mendebarkan, menggetarkan, dan menyadarkan!


Komentar

  1. Good . Daebakiiiiaaaa!!! 😉😉😉

    BalasHapus
  2. Good . Daebakiiiiaaaa!!! 😉😉😉

    BalasHapus
  3. Hmmm ...
    Penasaran dgn buku ini ...

    BalasHapus
  4. Waah jadi pengen beli, penasaran baca sendiri cerita nyaa :3 Good Luck Mi!

    BalasHapus
  5. Waah jadi pengen beli, penasaran baca sendiri cerita nyaa :3 Good Luck Mi!

    BalasHapus
  6. Kalau novel Tere Liye sih nggak usah diragukan lagi, pasti keren. Tapi setelah baca sinopsis ini, kok jadi makin pengen baca buku ini karena banyak nilai, istilah dan jalan cerita yang berbeda.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Nampaknya kisah Bujang dalam novel ini menarik untuk diikuti

    BalasHapus
  9. Sebenarnya nggak terlalu suka baca novel, tapi kok kayaknya menarik ya jadi pengen bacaa, btw ini resensinyaa bagus deh, bisa mengangkat sisi penting novelnya bikin orang jd pengen baca novelnya secra utuh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopandakan 1: Kotanobanku

Balairung UI empat tahun kemudian... (Graduation day)

Tumomongondow