Tumomongondow

Hari ini saya menerima kabar burung yang cukup menohok hati saya. Konon, Dalam ajang pemilihan Uyo’ dan Nanu’ Kota Kotamobagu yang digelar semalam terdapat hal yang cukup disayangkan karena adanya finalis Uyo’ dan Nanu’ yang tidak bisa berbahasa Mongondow (Naonda bi’ mo bali Uyo’ bo Nanu’ bo dia’ motaau tumomongondow). Sebenarnya saya tidak tahu akan benar tidaknya kabar ini karena saya memang tidak ada di tempat pelaksanaan grand final Uyo’ dan Nanu’ kotamobagu tersebut, tapi saya sangat berharap hal tersebut tidak benar terjadi (Info ini saya baca di beberapa postingan sosial media, termasuk dalam diskusi di salah satu grup FB). Setelah membaca info tersebut saya bertanya-tanya dalam hati apakah tidak ada syarat harus bisa berbahasa Mongondow dalam ajang yang akan menjadikan para peserta sebagai ikon daerah tercinta ini? Yang akan menjadikan Uyo’ dan Nanu’ terpilih untuk menjadi putra-putri daerah yang akan mempromosikan adat maupun budaya Mongondow?
Rasa penasaran akhirnya membawa saya mencari tahu ke beberapa media. Dan ternyata salah satu syarat untuk pemilihan Uyo’ dan Nanu’ Kotamobagu tahun ini adalah harus bisa berbahasa Mongondow Minimal pasif (Pasif loh, bukan ekspert). Akan tetapi, dalam proses seleksi banyak peserta yang tidak bisa berbahasa Mongondow sehingga proses tersebut berjalan alot bahkan pendaftaran yang sudah ditutup dibuka lagi karena banyak peserta yang belum memenuhi syarat terutama dalam kemampuan bahasa Mongondow (http://manado.tribunnews.com/2016/03/13/ironi-ikut-pemilihan-putra-putri-kotamobagu-tapi-tak-kuasai-bahasa-mongondow ). Berarti memang banyak pemuda-pemudi di BMR yang sudah-tidak-bisa-lagi-berbahasa-mongondow?  Dalam ajang Uyo' Nanu' Kotamobagu 2016 entahlah ada peserta yang tidak bisa berbahasa Mongondow yang malah berhasil lolos atau bagaimana. Namun fakta tersebut kemudian membuat saya berpikir akan kemungkinan jikalau pemuda-pemudi Bolmong Raya saat ini tidak bisa berbahasa Mongondow. Bagaimana kiranya sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang? Sungguh saya tidak bisa membayangkan kehilangan satu identitas daerah yang begitu penting dengan punahnya bahasa Mongondow karena tidak diwarisi oleh generasi muda.  
Bagi saya ini semua tidak terlepas dari satu fakta yang kini memang terjadi di Bolmong: Dia’ don nobiasa andeka mo oya’ tumongondow. Bahkan ada orang yang saya kenal—orang Mongondow asli, dengan percaya diri berbicara ala-ala anak gaul Jakarta pake “Gue-Elo”. Apa yang salah dengan hal tersebut? Tempatnya bro, ka kon kota’  (Kotamobagu)  yo’ tumon “Gue-Elo” bi’ mocirita takin yobayat ten tumpala doman mokokaan kon yondog (Baca: intau Mongondow). Saya pribadi memang bukan orang yang setiap hari, setiap saat berbicara tumomongondow dikarenakan beberapa tahun merantau  menyebabkan interaksi saya lebih sering dengan orang luar Mongondow. Akan tetapi dia’ bi pernah kolionganku in tumomongondow, aka moyodugkul intau Mongondow yo’ tetap bi doman tumomongondow.
Beberapa waktu lalu, saya melakukan penelitian skripsi mengenai PBMR (Pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya)  dan berkesempatan mewawancarai beberapa bupati di BMR, setelah selesai wawancara dengan salah bupati beliau kemudian bercerita tentang hal yang cukup dia sayangkan yakni banyaknya pemuda pemudi ASLI Bolmong yang justru enggan menggunakan bahasa Mongondow.  Bahkan pernah seorang pemuda ASLI Bolmong ketika orang tuanya berbicara dengannya dengan bahasa Mongondow anak tersebut malah menjawab “Haiii, mama eee ba bahasa bi Mongondow”. Mendengar langsung hal tersebut sang Bupati mengaku kecewa dan marah dengan sikap yang sangat disayangkan tersebut. Beliau yang bahkan pernah tidak menetap di Bolmong selama 30 tahun, masih terus menggunakan bahasa Mongondow, fasih. Pada akhirnya perbincangan selama dua jam tersebut berlalu dan ada sebuah pesan yang beliau katakan kepada saya yang saya rasa perlu saya ingatkan lagi kepada semua pemuda-pemudi mongondow “Banggalah menjadi orang Mongondow!” Bagaimana? Salah satunya lestarikan budaya dan bahasa. Tidak tahu? Ambe Pobalajar ! biasakan!
Cerita lain, Suatu hari ada seorang pemuda yang berkunjung ke rumah saya. Kebetulan di situ ada kakek saya. Begitu pemuda itu masuk ke rumah, ia memberi salam kepada kakek kemudian memperkenalkan diri, tempat tinggal dll dengan bahasa mongondow! Tidak hanya sampai di situ sepanjang mengobrol dengan kakek komintan bi’ tumomongondow.  Dan hal tersebut adalah inisiatif pemuda ini, kala itu ada perasaan kagum yang menggelitik jauh di dalam hati saya, bagi saya apa yang saya saksikan bermakna banyak hal positif: Sopan Santun, kecintaan terhadap bahasa Mongondow, kecerdasan, dan lebih jauh adalah tentang menaklukan lawan bicara bahkan orang yang sekedar mendengarkan. Begitu pemuda tersebut meninggalkan rumah,di samping faktor lainnya, karena ia begitu fasih tumomongondow ternyata meninggalkan kesan tersendiri bagi keluarga saya (Namun keberlanjutan cerita pemuda tersebut tidak akan saya certiakan di sini. hehehe) karena yang ingin saya sampaikan adalah wahai Uyo’ dan Nanu’ komintan (Yang saya maksud adalah seluruh pemuda pemudi Bolmong) Dika bi’ mo oya’ tumon Mongondow. Karena bagaimana kita bisa fasih berbahasa Mongondow adalah dengan sering menggunakannya. Semoga di tanah totabuan seluas 8,358,04 KM2 tersebut, masih ada kepercayaan diri menggunakan bahasa Mongondow dalam keseharian seperti pemuda dalam cerita di atas. Bahkan bukan hanya kepada orang tua, kepada pacarpun tumongondow pa. Dongka bidon salalu tumon-Jakarta taeken dia pa pernah minaya’ kon jakarta. Mobangon, mosiug, mongaan, momurouwan kon lipu’ in Mongondow taeken dia’ motaau tumon mongondow. Kan miris :(.
Saya tidak mengatakan menggunakan bahasa selain bahasa mongondow salah. Pemuda pemudi yang berlomba-lomba mempelajari bahasa Inggris bahkan merupakan hal yang positif. Bahkan saya sendiri juga mempelajari bahasa lain seperti bahasa dari negeri Ginseng akibat terkena dampak Korean Wave (hahaha). Akan tetapi, menggunakan bahasa Mongondow sama sekali tidak menurunkan derajat, jadi dika bi’ mo oya’. Itu bahkan menunjukkan satu kelebihan! Menunjukkan jati diri akan tanah kelahiran!
Tidak bermaksud mengenaralisir, fakta banyaknya putra-putri daerah yang tidak bisa (atau tidak mau) berbahasa Mongondow memang menjadi sebuah tamparan agar kiranya semua pihak berusaha melestarikan identitas bahasa tersebut. Saat ini pemerintah daerah bahkan sudah menerapkan aturan hari berbahasa Mongondow, harapon tua yo’ singgai tumomongondow deeman bi tonga’ aturan. Tapi dilaksanakan seluruh masyarakat : )
Selain membiasakan diri, mempelajari bahasa Mongondow sekarang bisa melalui kamus Bahasa Mongondow (https://radarbolmongonline.com/2016/03/2-173-kamus-bahasa-mongondow-disebar/). Bahkan seperti saat saya masih SD dulu, semoga pelajaran Mulok bahasa Mongondow benar-benar diterapkan di Kotamobagu dan seluruh wiayah Bolmong Raya.  Akhir kata: Kon onda kabi in bayaanku, Mongondow in kon ginaku :)

Depok, 4 Mei 2016
Di selah-selah menulis skripsi tentang PBMR 


Notes: Opini pribadi, yang tidak sesuai fakta silakan di klarifikasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopandakan 1: Kotanobanku

Balairung UI empat tahun kemudian... (Graduation day)