Kopandakan 1: Kotanobanku
untuk saya, kamu, dan kita yang sedang merindu
“Kepada
tempat itu, yang telah menjadi saksi saya tumbuh hingga ia membiarkan saya
sedikit meninggalkannya untuk sementara. Kepada tempat itu, yang kini saya
tujukan pucuk demi pucuk kerinduan akan aroma kampung halaman. Kepada tempat
itu,yang saya ikrarkan sebuah janji untuk pulang suatu hari nanti. Kepada tempat
itu, yang bernama desa Kopandakan 1...”
Bagi orang lain, tempat itu mungkin hanyalah sebuah desa dengan namanya agar manusia bisa menyebutkan titik tempat ia berdiri, atau tempat ia singgah, atau tempat ia menetap, atau tempat ia lahir, atau bahkan tempat ia hidup sepanjang hayatnya. Tapi bagi saya—atau bagi kami mungkin—orang-orang yang terpaksa harus menuntut ilmu ditanah orang lain, tempat itu tidak sebatas nama yang bisa kami sebutkan, melainkan menjadi tempat rindu kami bermuara.
Kopandakan 1. Kami yang disebut ‘mahasiswa rantau’ yang berasal dari desa yang unik ini, seolah sedang menabung rindu ketika orang lain disekitar kami bisa pulang ke rumah mereka di sore hari untuk mengadu pada ayah, ibunda, dan keluarga tentang bagaimana ia mencoba berusaha menyesuaikan dengan dinamika kehidupan kampus. Atau ketika mereka yang bisa menikmati makan malam bersama ‘orang-orang rumah’ setelah seharian mencoba memahami monolog dosen di kelas membuat saya iri karena kami melakukannya sendirian di sebuah kamar balok tempat kami sementara tinggal. Menabung rindu ini pula, berusaha saya nikmati bersama hal yang disebut ‘menyibukkan diri’ atau kadang sebuah alarm ‘ingat Ayah dan ibunda dirumah, mereka berharap banyak pada saya disini’. Ya seperti itulah saya—atau kami. Senantiasa rindu akan desa itu. Kopandakan 1.
Rindu saya biasanya menumpuk hingga musim liburan tiba yang kalau punya kelebihan bisa pulang untuk menemui kopandakan 1 dan keluarga tercinta disana, tapi kadang saya yang pas-pasan ini harus sekali lagi membiarkan celengan rindu saya bertambah akan rasa ingin pulang ini. Beruntunglah bila kami memiliki sahabat-sahabat dari daerah lain sebagai penghibur bahwa “bukan hanya saya yang menabung rindu”. Tapi bagaimanapun, desa saya itu: Kopandakan 1, bagi saya adalah muara rindu dari proses saya meciptakan asa akan mimpi dan pencarian jati diri. Bagaimana tidak? Tempat itu menjadi saksi saya menangis pertama kali pertanda saya telah lahir di dunia. Mejadi saksi pula saya dari yang belajar berjalan saat balita, diapit oleh ayah dan ibunda sebelum TK, sampai akhirnya saya langkahkan kaki saya sendirian dengan mengenakan seragam putih merah menuju sekolah dasar. Desa itu, tidak hanya saksi tapi juga menyimpan mozaik kenangan dalam memori hidup saya.
Kopandakan 1, saya selalu menanti-nanti hari ketika berjumpa lagi dengan pohon sombar pertanda sudah memasuki kampung, jemputan keluarga saya dengan senyuman, serta loncat-loncatan adik sepupu yang melihat saya berjalan menuju teras rumah menemui ayah dan ibunda yang siap memberikan pelukan. Saya pun menanti dalam rindu akan sahut menyahut di pagi hari oleh kesibukan para tetangga mempersiapkan anaknya kesekolah, lengangnya jalanan desa di siang yang terik, sore yang jingga ditemani pisang goreng dan dabu-dabu yang khas, serta malam di ruang tamu rumah sembari mendengar suara jangkrik di pekarangan luar ataupun bersama mie ojo di kantin-kantin dengan cengkrama yang amat akrab. Kopandakan 1, saya menanti hari itu, dengan rindu.
Tulisan ini adalah sebuah goresan ketika untuk kesekian kalinya saya ingin menghilang dari tempat saya duduk sekarang hanya untuk berjumpa dengan orang-orang yang ada di tempat itu, hanya untuk sekedar menatap wajah mereka sembari berkata ‘akuoi mokotanob’. Demikianlah Kopandakan 1, walaupun jauh hingga tiga ribu lebih kilometer, namun aroma dengan segala ciri khasnya, sapaan orang-orang disana, dan logat uniknya, disitulah kampung kelahiran saya yang selalu...Kotanobanku.
Mokotanob artinya apa ya?
BalasHapusartinya merindukan
HapusRindu
BalasHapuskotanobanmu artinya apa ya?
BalasHapus