Carut-Marut dalam Masa Kampanye Pilwako KK 2018

Sebelum anda semua membaca paragraf selanjutnya dari tulisan ini, perlu saya tegaskan dulu bahwa saya cuma anak kemarin sore yang tidak lebih banyak dari anda pengetahuannya dan hanya ingin menyampaikan opini saya. Saya bukan simpatisan kedua pasangan calon, karena jika diminta untuk berdiri pasang badan kepada salah satu diantara pasangan calon ini saya rasa saya memang tidak bisa. Keduanya sama-sama pernah duduk bertatap muka dan berdiskusi dengan saya dan sama-sama pernah berjasa dalam hidup saya. Bapak Jainudin Damopolii merupakan salah satu narasumber dalam skripsi saya dan menjadi titik pembuka penelitian saya mengenai PPBMR. Ibu Tatong Bara telah memberikan dukungan penuh bahkan menyempatkan hadir dalam malam grand final saat saya mengikuti Pemilihan Duta Muda ASEAN Indonesia 2017 disaat peserta lain tidak dihadiri oleh kepala daerahnya. Secara pribadi saya sangat berterima kasih kepada keduanya dan secara pribadi saya menghormati baik Tatong Bara maupun Jainudin Domopolii. Secara status sebagai seorang pemilih, saat ini saya sedang mendalami visi misi dan program keduanya. Urusan di dalam TPS nanti, biarkan saja saya menunaikan asas Rahasia dalam Pemilihan.

Alasan saya menulis ini adalah tergelitiknya hati saya dengan perilaku pemilih masyarakat Kota Kotamobagu sejak masa kampanye Pilwako KK dimulai. Berbagai kicauan yang lewat di beranda media sosial saya  cukup membuat saya geleng-geleng dengan sifat primitif simpatisan kedua pasangan calon.  Apalagi satu jam sebelum saya menulis ini saya membaca sebuah berita mengenai insiden saling lempar yang membuktikan emosi dari para simpatisan begitu egois dan tidak mau mewujudkan kampanye damai yang harusnya bisa dicapai setelah 20 tahun reformasi.

Pemilihan kepala daerah bukan baru dilaksanakan satu kali, namun yang membuat saya heran mengapa masyarakat Kota Kotamobagu tak kunjung belajar dari pengalaman pemilihan-pemilihan sebelumnya. Menjadi simpatisan dengan totalitas dan loyalitas boleh-boleh saja, tapi mengapa tidak jadikan saja pemilihan sebagai ajang layaknya pesta demokrasi? Memilih sembari bersenang-senang tanpa embel-embel emosi dan caci maki. 

Pemilihan ini seolah menjadi pertarungan harga diri antar simpatisan, bukan lagi pertarungan visi misi dan program dari pasangan calon untuk kepentingan Kota Kotamobagu. Saya yakin, lebih 70% dari simpatisan militan yang seolah-olah hidupnya bergantung pada Pilwako KK ini belum duduk dan membaca dengan cermat serta membandingkan visi misi maupun program kedua pasangan calon. Jika anda termasuk pada 70% tersebut, cobalah duduk dan cermati apa yang akan dibawah oleh pasangan calon yang anda dukung!

Saya menulis ini dalam perasaan yang sangat gemes dan tergelitik. Saya pernah turut serta dalam penelitian mengenai perilaku pemilih pada saat Pilwako Depok tahun 2015, kemudian pada saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kebetulan saya kenal dengan beberapa orang simpatisan tiga pasangan calon. Dari penilaian dan pengalaman menyaksikan Pilwako Depok dan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tersebut, sejujurnya (tadinya) saya cukup optimis dengan masyarakat Kota Kotamobagu dalam menghadapi Pilwako KK tahun ini. Optimisme tersebut kini mengambang lagi, belum satu bulan masa kampanye namun nampaknya setelah lima tahun berlalu masyarakat Kota Kotamobagu masih jalan di tempat. Mumpung masa kampanye baru saja di mulai, saya rasa belum terlambat untuk masyarakat Kota Kotamobagu bangun dari carut-marut ini. Tetap saling menghargai dengan tetangga dan keluarga, tidak melupakan sapaan walau berbeda pilihan, Dan yang terpenting menjaga emosi dalam pesta demokrasi.

Coba bayangkan jika ribuan pemilih pemula di Kota Kotamobagu diperkenalkan pada pesta demokrasi dengan budaya carut-marut ini, Kotamobagu yang seperti apa yang kita harapkan untuk tahun-tahun yang akan datang? 

Sekali lagi, saya memang cuma anak kemarin sore, bisa dikatakan sebagai pemilih pemula, bisa jadi ada pembaca yang merasa saya belum pantas menulis opini ecek-ecek ini, tapi bagaimanapun dalam dada saya sudah terpatri keinginan untuk Kota Kotamobagu menjadi lebih baik kedepannya, maka rasanya tidak nyaman jika saya tidak menuliskan rasa resah saya sebagai pemilih pemula yang berharap banyak untuk perkembangan kota kelahiran saya. Kurang dari tiga bulan kedepan, lima tahun Kota Kotamobagu akan ditentukan. Oleh siapa? Oleh tangan anda sekalian. Pertanyaannya, Kota Kotamobagu yang seperti apa yang anda harapkan?



~~
PPBMR: Pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya
TPS: Tempat Pemungutan Suara
Pilwako: Pemilihan Walikota
KK: Kota Kotamobagu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopandakan 1: Kotanobanku

Balairung UI empat tahun kemudian... (Graduation day)

Tumomongondow