(Part 2)
Hai Chingudeul...
Akhirnya bisa luangin waktu (Yang
sok sibuk ini) buat lanjutin tulisan pengalaman ke Korea. Tadinya mau nulis
sekalian sama edisi ada oppa-oppa, tapi
sepertinya hal tersebut harus dikupas sendiri karena bakal cukup panjang
hahaha. Jadinya mau cerita dulu nih kegiatan di Hanok Village dan Korea
University. Ada enaknya juga sih baru nulis sekarang, karena sembari memanggil memori
baik yang pernah saya alami. Nah, jadi di pagi hari yang masih super dingin
(tapi tetap gak turun salju) kami bergegas menuju Bukchon Hanok Village yang
merupakan desa rumah tradisional Korea
di wilayah Bukchon. Kawasan desa tradisional ini sangat menarik karena
rumah-rumah tradisional yang ada merupakan peninggalan bangsawan era Dinasti
Joseon dan masih terawat meskipun terletak di tengah kota modern yang sudah
mengalami perkembangan. Selain itu, Hanok Village ini juga merupakan
perkampungan yang dihuni oleh masyarakat (Bukan sekedar rumah kosong). Tapi ada
beberapa rumah yang tidak ditempati dan boleh dimasuki pengunjung dan
bahkan kita bisa mempelajari banyak hal
di dalamya termasuk pakai Hanbook (Baju tradisional Korea). Oia, Kalo di iklan
L**k Kopi edisi Lee Min Hoo, ada bangunan-bangunan rumah ala Korea gitu kan yaa?
Nah Itulah Bukchon Hanok Village (Berarti saya ke tempat syuting Lee Min Hoo
untuk iklan Kopi L**k, lumayan lah kita pernah berada di tempat yang sama #Lah
#Lah).
 |
| Bukchon Hanok Village |
Di Bukchon Hanok Village, kami dengan
sengaja mencari salah satu kuliner yang katanya khas di daerah ini. Kuliner ini
tidak lain dan tidak bukan adalah Bibimbab tapi dimasukkan ke lunch box yang konon sering menjadi bekal
anak-anak sekolahan di Korea (Gak tau sampe sekarang masih kayak gitu atau
gak). Nah cara memakannya unik karena lunch
boxnya harus di kocok-kocok dulu biar rumput laut dan lain-lainnya nyampur.
Udah gitu lunch box yang sudah berisi
Bibimbab ini panas jadi kita pake sarung tangan dulu. Pokoknya unik deh. Dan
pas makan di sini, kita dikasih Toppoki gratis sama Imo-nya karena beliau
terharu dengan usaha kita yang sengaja mencari tempat makan miliknya. Yeaaah!!!
 |
| Lunch box |
 |
| Kamsahamnida Imo |
Setelah mengeksplorasi warisan
rumah tradisional di Bukchon, kita menuju Insadong (Pusat barang-barang tradisional
murah yang bisa jadi oleh-oleh) dan we get
lost for few hours. Di sini saya menikmati suasana Ssamzeigil sambil makan
kue yang bentuknya ikan (Sering ada di drama Korea). Kemudian di sini ternyata
ada kertas yang bisa kita tulis apa saja trus digantung di halaman tengah
Ssamzaegil sebagai kenang-kenangan gitu, jadi yang sebelumnya saya gak menggembok apa-apa di Namsan Seoul
Tower (Karena gemboknya beli dulu-mahal lagi), di sinilah akhirnya kuabadikan nama ‘kita.’ Eh
kita? Maksud saya nama saya dan nama kamu di satu kertas (Kalau penasaran
apakah nama kamu yang saya tulis, monggo di cek sendiri ke Ssamzeigil. Atau kalo
mau ngajak saya sekalian boleh banget Haha).
Di Insadong kita juga nongkrong di
kafe hits-yang-korea-banget-lah.
 |
| Nama kamu? |
Barulah setelah itu kita menyadari
bahwa sudah waktunya menuju Korea University. Di Korea University kita disambut
oleh Student Ambassador Korea University
dan kemudian melakukan student sharing
dan lain-lain. Setelah itu muter-muter kampus tapi karena Korea University
begitu luasnya jadi sepertinya Cuma 10% wilayah kampus yang kita kunjungi
karena suhu yang begitu dingin membuat tubuh tak mampu lama-lama diluar (Cuma
foto di beberapa spot trus masuk lagi ke dalam gedung). Di Korea University ini ada banyak hal yang saya dapatkan, baik student life yang saya amati langsung maupun perspektif dan pengetahuan ketika berinteraksi dengan mereka. Untuk mengakhiri tulisan tentang negeri ginseng part 2 ini, saya ingin berbagi tentang salah satu part mimpi yang saya raih karena tekad, usaha, keyakinan, dan doa tentu saja. Pada bulan November
2015 saya pernah jadiin gedung utama Korea University (Hanya gedung) sebagai
BBM Picture saya (I wish to stand in fornt of the building), kemudian pada bulan Januari 2016, BBM picture saya adalah
gedung yang sama, tapi ada saya yang bediri di depan gedungnya. Nothing ever
becomes real till it is experienced (John Keats)
 |
| (Google, 2015) |
 |
| (Korea University, Januari 2016) |
Komentar
Posting Komentar