Annyeong Haseyo 안녕하세요, pada postingan kali ini saya
pengen bahas pengalaman ke Korea Selatan pas bulan januari 2016 lalu. Pas Korea
lagi dingin-dinginnya. Sebenarnya udah pengen banget-banget nulis tentang ini
tepat setelah menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Tapi karena sesudah balik
dari Korea harus berjuang demi gelar S.IP (mau nulis yang seru-seru selalu
terbayang si skripsi) maka akhirnya tertunda berbulan-bulan. Well, jadi apa
yang yang saya lakukan di Korea? Ngejar oppa-oppa? Pengen jadi artis Korea?
Atau niat operasi pelastik? Big no gais. Alhamdulillah ke sana ada tujuan yang
jelas. Ikut ISWCE di Korea University—sambil jalan-jalan dikit sih. Hehehe.
Sebelum berlanjut ke cerita saya, perlu di ketahui bahwa saya bukan orang kaya,
kuliah aja berkat beasiswa. Jadi biayanya tentu bukan biaya saya. Cuma yaa kalo
untuk jajan pribadi saya pakai uang
tabungan berbulan-bulan dari hasil freelance
bantuin penelitian dosen dan lembaga peneliti. Oke, tentang negeri ginseng ini,
Cekidot ;)
 |
| Hongkong |
Berangkat tanggal 17 Januari 2016
pukul 8.00 dari Jakarta menuju Hongkong (Loh kok ke Hongkong? Hehe ceritanya
transit gais, menghabiskan hampir satu hari di Hongkong karena penerbangan ke
Korea pukul 00.30 lewat tengah malam). Niat mau keluar bandara tapi gak jadi
karena baru nyari prayer room di bandara
Hongkong aja udah abis waktu tiga jam, kalo nekat keluar dan nyasar bisa-bisa
gak nyampe Korea. Hahaha. Tapi saat di prayer room itu bikin terharu banget,
ketemu dan berkenalan dengan sesama muslim dari berbagai negara, dan saya
menemukan bahwa yang bawa mukena tipis bahan parasut warna-warni cuma dari
Indonesia! Oke lanjut, setelah menempu perjalanan panjang menuju langit biru
–eh Korea, akhirnya perempuan berkerudung monochorme
ini sampai juga di Incheon International
Airport saat subhu 18 Januari 2016.
Sama besarnya dengan bandara di Hongkong, saya sama bingungnya juga.
Tapi jangan khawatir gais, baik bandara di Hongkong maupun Incheon selalu punya
tourism information dan kita bisa
dapat tourist guide book lengkap
sekaligus dikasih peta. Dan di kedua bandara ini kita bisa akses wifi
sepuasnya.
 |
| Incheon |
First impression saat tiba di Incheon? Gila, gue beneran di Korea
nih? Omoniii....(read: Senang dan berdebar-debar)
 |
| Happy face |
Begitu ketemu temen-temen dari
universitas lain, kita bergegas menuju Seoul. Saat nyoba keluar dari bandara,
sungguh diriku tidak meyangka sedingin itu, lebih dingin dari waktu naik gunung
di Indonesia (Yaiyalah, saat saya sampe di Incheon temperaturnya minus enam
derajat celcius). Dengan menggunakan bis, kita menuju penginapan di Gangnam
(Iya, Gangnam yang katanya kawasan elitnya Korea itu). Nah karena program yang
saya ikuti meliputi mempelajari budaya Korea, maka kami semua belajar jadi
kayak orang Korea (Serius? Jadi cantik dan ganteng juga gak? Hehe yang itu sorry to say, engga gais) jadi saya dan
teman-teman saya memulainya dengan budaya mengantri yang benar-benar diterapkan
dengan bagus oleh orang Korea Selatan. Bahkan untuk naik-turun eskalator aja
ada budayanya, yang cuma diam berdiri silakan di sebelah kiri, jangan nutup
jalan karena sebelah kanan adalah untuk yang lagi buru-buru atau mau jalan,
jadinya gak ada fenomena orang berdiri di eskalator menghalangi jalan orang
dibelakangnya. Kalo lagi nunggu subway
(kereta bawah tanah yang terhubung ke semua tempat strategis di Korea)
orang-orang pada ngantri bikin dua baris ke belakang dengan sangat rapih, gak
ada fenomena rebutan untuk masuk kereta karena setiap lima menit pasti ada
kereta yang datang.
 |
| Gangnam, Seoul |
Di hari pertama ini, kita
melakukan kegiatan mandiri sampai akhirnya makan malam bareng. Waktu itu saya
makan Kimbab yang tidak saya sangka porsinya besar-besar gak kayak di Indonesia
(tempat makannya, saya lupa namanya. Tapi Insyaallah bisa di makan oleh yang
muslim seperti saya). Sesudah makan malam, saya dan mahasiswa lainnya nyobain subway bermodalkan peta, menyusuri
Gangnam Street, ikutan gabung dengan anak-anak muda Korea Selatan sembari
nyobain food street yang kayak di
drama-drama –and ttopokki know me so well.
Saat naik subway, yang saya salut sama orang Korea tuh bangku prioritas untuk
lansia, difabel, dan orang hamil gak didudukin. Beberapa orang di
gerbong itu memilih berdiri daripada duduk di bangku yang tersisa yakni bangku
prioritas. Melihat hal tersebut pikiran saya melayang ke Commuterline di
Indonesia...ah Seandainya!
 |
| Korean food |
 |
| Gangnam food street |
Keesokan harinya dimulailah
aktivitas panjang berpetualang di kota Seoul. Kali ini kita ditemenin sama
Kevin (Orang Korea tapi bisa bahasa Indonesia). Di mulai dari mempelajari
sejarah kerajaan Korea di Changdeokgung Palace(Istana Changdeok), melewati kompleks
Blue House, mengunjungi pusat ginsengnya Korea, dan ke Namsan Seoul Tower yang
ada gembok cintanya (Tapi suerrr saya gak menggembok nama siapa-siapa di situ, nanti
aja kalau kamu mau ngajak saya ke Korea baru kita gembok nama kita bareng-bareng,
#Lah #outoftopic #mianhaehaha). Di hari yang dingin itu pula btw saya akhirnya
melihat dan makan salah satu makanan Korea bernama Samgaetang, waktu itu di
meja ada arak gitu yang katanya harusnya di campur ke Samgaetang, tapi kita
yang muslim gak nyampurin tentunya, bukannya takut mabuk, tapi takut dosa.
 |
| Changdeokgung |
 |
| Ginseng Center |
 |
| Samgaetang |
 |
| Myeongdong |
Well yeah, di malam hari yang dingin—btw saya lupa bilang hari ini
Seoul minus lima belas derajat celcius OMG—sampe Kevin angkat jempol empat
karena kita yang berasal dari negara tanpa winter bisa bertahan SEHARIAN dengan
kondisi cuaca sedingin itu. Oke kembali ke malam hari yang dingin, kita
muter-muter Myeongdong dan karena hari ini udah banyak belajar saatnya
menghibur diri dengan Nanta Show!!! (Yang penasaran dengan nanta show monggo di
googling sendiri, lebih seru lagi kalo nonton langsung). Oia, di Myeongdong ini kan
ceritanya ada belanja-belanja dikit (maklum banyak pesanan) di situ perlu skill berbahasa Korea dengan sopan
karena kita orang asing. Saya sempat salah ketika ngomong makasih ke penjualnya—ibu-ibu—pake
Banmal 반말 (Bahasa
informal Korea, kurang sopan kalo digunakan saat bicara dengan yang lebih tua,
atau orang yang baru di kenal) maklum kebanyakan nonton drama jadi malah
ngomong “Gumawo ” bukannya “Kamsahamnida” (Hehe, jangankan skill berbahasa
korea yang sopan, punya skill dasar aja
saya engga hahaha). Tapi di sini pula saya tahu, kalo untuk manggil ibu-ibu
yang biasa jualan gitu mereka akan lebih seneng jika di panggil “Imo” daripada
“Ajumma” meskipun artinya sama-sama Bibi.
Dua hari di Korea, lumayan dapat
banyak pengalaman dan ilmu. Sayangnya sudah dua hari ini dinginnya ekstrim tapi
gak turun salju yang bisa di foto hahaha. Pas tengah malam sebelum kita ke Changdeokgung
sih turun salju tapi cuma bisa menyaksikan di balik Jendela karena sudah pukul
02.00, dan di pagi hari saljunya udah di taburin garam. Untuk dua hari ini
sekian dulu, akan menyusul cerita saat ke Korea University, Hanok Village,
Hongdae, dan pengalaman unik seru lainnya. Dan meskipun saya gak ngincar
oppa-oppa Korea, tapi ketemu pasti iya dong, nanti yaa gais..!!!
 |
| Annyeong! |
Komentar
Posting Komentar