Sepasang Capung Diatas Sungai Siak
Ada
hal-hal yang perlu tetap membisu
Ada
momentum yang perlu kamu biarkan berlalu
Ada
waktu yang mungkin membeku dalam
ingatanmu
Adalah
kamu, yang menjadi bait puisi perpisahan milikku.
~~~
Aku kini tengah duduk di kursi 23E setelah
sepuluh menit lalu pesawat yang kutumpangi take
off dari bandara Sultan Syarif kasim Pekanbaru. Tangan kananku masih
menggenggam benda kecil berwarna perak. Aku lagi-lagi kembali ke memori dusun
kecil itu, teringat pada dongeng sepasang capung diatas sungai Siak yang kamu
ceritakan.
Sepasang capung itu tengah asyik
berlari dan menari, tapi mungkin saja semakin mereka menari, mereka akan
bergerak ke dua arah yang berbeda. Karena waktu tidak berhenti, sedangkan jarak
membentang begitu luasnya.
Aku
menyadari bahwa tiga puluh hari
mengenalmu memang tidak cukup untuk menjadi alasan kamu atau aku harus berkata
sesuatu setengah jam lalu. Tapi aku dipertemukan pada sebuah paradoks yang
menggelitik bahwa tiga puluh hari kita tidak berlalu tanpa cerita. Kamu, yang
masih bergeming membisu dan tenggelam dalam dilema keraguanmu: Bagaimana bisa
aku melupakan caramu menuangkan air kedalam gelasku? Bagaimana bisa aku melupakan
caramu membalut jariku yang teriris pisau? Atau bagaimana bisa aku melupakan
raut wajahmu yang berlari demi mengantar topiku yang tertinggal siang itu? Dan bagaimana
bisa aku melupakan fajar bersamamu, senja disampingmu, serta malam-malam syahdu
dengan petikan gitar olehmu. Bagaimana bisa aku membiarkan berlalu tiga puluh
hari bersamamu?
Tapi setengah jam lalu kamu dan aku
tetap membisu, Seoalah bandar udara ini tidak sedang memberi isyarat bahwa ia
adalah tempat sebuah perpisahan. Namun tetap saja ketika orang-orang kini
tengah berjabat tangan, berpelukan, dan merelakan sebuah keberangkatan, kamu
hanya berdiri membeku seperti lidahmu sedang tercekat. Maka kuputuskan
membiarkan momentum ini berlalu, membiarkan tigapuluh hari menjadi tanpa arti. “Aku
pamit” ucapku kepada semua yang mengantarkan aku kebandara, khususnya kepadamu.
Saat kujabat tanganmu, kamu hanya tersenyum dan berkata “Hati-hati”.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum
tipis, kulambaikan tanganku sebelum aku berbalik menuju pintu gate 1. Lalu kutemukan
lengan kananku ditahan dan wajahum kini sedang menatap dalam kepadaku, dengan
terburu-buru kamu mengeluarkan sebuah almamater dari dalam tas lalu mencopot
kancing paling atas alamamter itu. Benda kecil itu segera berpindah ke
genggaman tanganku, meninggalkan tiga kancing lainnya yang masih utuh di almamatermu. Aku rasa, itulah kenapa ada hal-hal yang perlu tetap
membisu, karena ada hal lain yang mungkin lebih bijaksana menggambarkan
sesuatu.
Pada detik ini kamu mungkin juga
sudah dalam pewasat menuju Kotamu, sementara aku masih menggenggam kancing
almamater milikmu sembari menerawang kembali ke dusun kecil itu. Mungkin sepasang capung
diatas sungai Siak kini sedang mengenang dongeng kita, atau mereka juga tengah
menari ke arah yang berbeda. Jikalau tiga puluh hari memang bukan waktu yang lama
untuk kita mengungkap bisu. Maka disuatu
hari di tahun-tahun yang akan datang, barangkali kita bisa tanpa sengaja
bertemu di suatu kota kecil entah dimana dengan tarian sepasang capung yang
lain, setidaknya jika kita ditakdirkan dalam jumpa lagi, aku akan berkata padamu
“Aku selalu menunggu hari ini”.
Untuk kamu yang sedang kembali kepada tiga puluh hari #kknkebangsaan2015
(Ini bukan pengalaman pribadi saya ya)
(Ini bukan pengalaman pribadi saya ya)
Tepuk tangan dulu lah 👏👏
BalasHapusDiangkat dari kisah nyata ini bro?
engga kisah nyata juga sih, tapi sedikit terinspirasi dari kisah-kisah anak KKN :D
BalasHapus