Tiga Puluh Menit

Mungkin langit sore ini adalah bagian dari rencana, mungkin langkah kakiku hari ini lebih paham, mungkin pula pertemuan ini akan menjadi sebuah judul baru atau justru menambah BAB cerita tentangmu yang tak kunjung menemui usai

Lelaki di hadapanku tersenyum, memperlihatkan keramahannya untuk pertemuan pertama kami. Lelaki itu kemudian menjabat tanganku seraya menyebutkan namanya. Adri.

Kamu tahu Sat? Aku memulai perbandingan ini dengan senyumannya.

Aku duduk dihadapannya, sembari mencoba mencari ide dikepalaku untuk menghilangkan awkward moment yang kini memenuhi sudut kafe ini. Adri kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir hot cappuccino lalu ia bertanya padaku. “kamu mau minum apa?”. “Hot chocolate” jawabku.

kamu tidak bisa minum yang berkafein kan Sat? Itu sebabnya kita sama-sama menyukai hot chocolate.

Hujan diluar semakin deras, enggan untuk membiarkan matahari sore menunjukan jingganya. Adri memulai percakapan kami, pikiranku masih tidak disudut ruangan ini, mungkin sedang mengiringi hujan yang berlomba-lomba untuk jatuh ke tanah di luar sana. Adri memanggil namaku ketika ia melihat pandanganku masih tak berpaling dari hujan dibalik kaca. Aku segera memalingkan pandanganku. Menatapnya dengan ekspresi tanda tanya dan sedikit perasaan tidak enak. Ia sekali lagi tersenyum, lalu berkata “Kamu suka hujan?”

Dulu aku pernah amat menyukai hujan, jika sedang duduk disuatu kafe seperti ini. Bersamamu Sat.

Aku tersenyum tipis padanya lalu menjawab “Tidak selalu”. Setidaknya aku memang tidak berbohong, Perempuan manapun akan suka bila ia duduk di suatu tempat bersama seseorang yang diam-diam ia sukai, sementara hujan membuat mereka tak akan cepat beranjak dari tempat itu. “apa kamu menyukainya? Hujan sore ini?” tanyanya tiba-tiba.

Satria, mungkin Adri paham teori tentang hujan yang sendang aku pikirkan. Tapi aku bahkan tidak tahu, apa kamu pernah menyukai hujan ketika bersamaku.

Aku belum (atau tidak) menjawab pertanyaannya kemudian seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Aku segera mengambil cangkir hot chocolate di atas meja dihadapanku. Aroma cokelat lagi-lagi menghempaskanku menuju potongan demi potongan kenangan. Kenangan tentang dua orang teman yang akan menghabiskan waktu mereka untuk berdebat, berdiskusi, bahkan tertawa ditemani dua cangkir hot chocolate. Kenangan tentang dua orang teman yang lagi-lagi terjebak pada suatu kafe karena hujan deras yang turut berkonspirasi dengan perasaan salah satu diantaranya, atau keduanya? Harapku kala itu. Kenangan itu, yang kemudian dipatahkan oleh jarak, dikhianati oleh tujuan hidup, dan dibungkam  bertahun-tahun oleh keterdiaman. Terbang, kemudian hilang dan digantikan tujuan hidupku untuk kembali ke kota ini.

Kamu sedang apa disana Sat? Apakah menata hidupmu bersama mimpi besarmu di kotamu? Mimpi besarmu yang tanpa aku didalamnya. 

“Bolehkah kamu beri tiga puluh menit untuk pertemuan ini, saya akan buat kamu suka pada hujan sore ini” ucap Adri sambil memerhatikan aku yang masih bersama hot chocolate ditanganku. Membuatku suka dalam tiga puluh menit? Tidak mungin. Pandangannya tidak teralihkan kemanapun, matanya menatapku dengan lurus, tajam tapi tidak mengintimidasiku. Menembusnya perlahan hingga aku menyadari apa yang telah kuperbuat sore ini. Mungkin aku masih tidak akan menganggap hujan sore ini istimewa, tapi kami sudah duduk disini. Betapa egoisnya aku bila untuk pertemuan tiga puluh menit ini tapi aku malah tidak menghargai.

Satria, bolehkah aku memberinya tiga puluh menit sore ini? Untuk setidaknya tidak memikirkanmu.

Aku menaruh cangkirku kembali ke atas meja. Menatap lensa lelaki dihadapanku. Dia tidak sedang menunggu jawabanku, tapi ia sedang menunggu pertanyaanku. “Jadi, kenapa saya harus menyukai hujan sore ini?” tanyaku padanya. Mencoba memasuki permainan ini.
“Karena ketika kamu masuk ke ruangan ini, saya sudah memutuskan bahwa saya tidak akan membiarkan waktu sore ini yang sudah susah payah diatur oleh keluarga kita terbuang sia-sia. Seperti membiarkan kamu menemui potongan kenangan kamu yang entah dimana” ucapnya yakin. Menyindirku tapi aku tidak tersinggung.
Aku tersenyum, lelaki dihadapanku mengangkat cangkirnya, meminum hot cappuccino sembari tetap menatapku. “Jadi kamu suka hujan deras  sore ini diluar sana?” tanyaku mencoba membangun percakapan ini. Memberinya tiga puluh menit sepertinya tidak akan ada ruginya. Meskipun sebelumnya aku bahkan tidak tertarik dengan pertemuan yang diatur oleh keluarga seperti ini.
“Sekarang?” ia menaruh cangkirnya kembali lalu menatap keluar. Hujan tidak menunjukan tanda-tanda untuk redah. “Mungkin kamu bisa tanyakan hal itu lagi setelah tiga puluh menit?”. Aku menatap jarum jam tanganku, jarum pendek dan jarum panjang berada tepat pada angka empat. Lalu percakapan kami berlanjut, aku mulai memerhatikan rambutnya, mata hitamnya, bentuk wajahnya, dan kameja cokelat yang ia kenakan selama ia berbicara. Kami bercengkrama mulai dari hal simple hingga pandangan politik yang membuat kami berdebat. Sesekali kami tertawa ditemani lantunan hujan diluar sana yang seolah merestui pertemuan sore ini.
Ditengah percakapan kami yang tidak ada habisnya, tiba-tiba ia melihat keluar dan berkata “hujan sudah berhenti, sepertinya waktu yang kamu beri sudah habis?” Aku mengikuti pandangannya kemudian melihat jam tanganku lagi. Jarum pendek sudah berpindah pada angka lima sedangkan jarum panjang berada pada angka empat lagi yang artinya jarum menit itu sudah melakukan putaran satu kali. “astaga” ucapku lalu tertawa kecil.
“Saya rasa saya tidak akan bertanya lagi kepada kamu apakah kamu menyukai hujan sore ini atau tidak” ucapnya.
“Dua kali tiga puluh menit, saya bahkan tidak sadar kalau sebentar lagi magrib” aku berkata dengan tersenyum kecil, sedikit malu pada dua buah cangkir yang telah kosong dihadapan kami. Hujan diluar benar-benar sudah berhenti, mungkin sudah dari tadi. Kini hanya meninggalkan bekas basah pada tanah.
Thank you, untuk sore ini, terutama bonus tiga puluh menit kedua. Saya rasa sekarang kamu bisa kembali kepada apapun yang sedang kamu pikirkan tadi. Maksud saya, sebelum saya mengacaukannya” ucapnya sambil tersenyum menyindriku. Aku hanya tertawa kecil seperti membenarkan perbuatanku satu jam yang lalu. Kami kemudian berdiri, keluar dari kafe bersama langit yang akan segera menghitam. Adri mengantarku hingga ke taksi, sebelum ia menutup pintu taksi yang aku tumpangi ia berkata “Hujan, baru kali ini saya amat menyukainya”.

Satria, aku rasa senyuman Adri memang tidak seperti milikmu. Ia juga tidak memilih cokelat panas seperti kita. Tapi Adri menggunakan tiga puluh menit yang aku berikan. Bagaimana kabarnya dengan bertahun-tahun waktu bagiku dan dirimu?
Satria, mungkin jika di setiap pertemuan kita dulu, yang tak jarang diiringi oleh rintik hujan. Jikalau sekali saja kamu pernah berkata kamu menyukai hujan—bersamaku , maka cerita ini akan berbeda.
Satria, mungkin tentangmu harus kuakhiri pada BAB ini. Karena pada catatanku berikutnya, aku akan menulisnya pada sebuah lembaran yang bisa dibaca olehnya. Tidak lagi dalam kebisuan yang sia-sia
Satria, mungkin tidak hanya pada mimpi masa depanmu. Tapi juga dalam mimpi besarku, tidak pernah ada kamu didalamnya. Karena pada akhirnya, semua kesamaan kita adalah untuk tujuan hidup dan cita-cita yang berbeda.
Satria, ini tidak mudah. Tapi waktu, akan berbaik hati menghapus tentangmu.

Aku sampai di depan rumahku. Langit pekat kini ditemani sepotong bulan dan malam diramaikan oleh lampu-lampu di seluruh penjuru kota. Aku mengeluarkan ponselku. Lalu mengetik sebuah pesan.

Adri, kalau tadi saya kasih kamu tiga puluh menit (dengan bonus), bagaimana kalau kamu juga kasih tiga puluh menit kamu lain kali?

Hari ini, aku putuskan membuka satu kesempatan baru. Sedikit tidak percaya bahwa setelah tiga tahun, aku akan sampai pada titik mempertimbangkan orang lain selain Satria seperti ini. Dua kali tiga puluh menit yang cukup ajaib menurutku. Aku menghela nafas, mungkin saja dalam mimpi masa depanku, akan ada Adri di dalamnya. Beberapa menit kemudian Adri menjawab: 

Kapanpun. Dan di lain kali itu ketika kita duduk berhadapan, saya harap hujan akan turun setidaknya tiga jam (sebagai bonus). hehehe






Note: Kafe tempat Adri dan aku bertemu, itu milik Adri.
*cerita ini akan berlanjut kalo ada yang minta*
 

Komentar

  1. Haha Satria bi' tua eee.. paling sebe tua itu :D
    Lanjut aja jo.. ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopandakan 1: Kotanobanku

Balairung UI empat tahun kemudian... (Graduation day)

Tumomongondow