Ruangan ini: Kamu dan Ketidaktahuanmu
Aku termenung di sudut
ruangan ini, mencoba mengusir setiap potongan kenangan tentangmu yang masih
terus berdesakan masuk ke dalam pikiranku. Ah, tapi apakah kita memang punya
kenangan seperti itu?
Aku mendapati diriku
kembali pada hari itu, disaat tiba-tiba saja aku mulai menatapmu dengan cara
yang berbeda, Disaat aku mulai menganggukan kepala untuk segala tutur katamu,
disaat mata hitam di balik lensamu mulai menembus jantungku—membuatnya berdetak
lebih dari keadaan normalku biasanya.
Kemudian aku mendapati
diriku kembali pada masa-masa itu, pada satu pergerakan jarum jam dimana matamu
dan mataku saling bertemu, pada satu momentum aku memalingkan wajahku demi
mendapati diriku yang diam-diam menyimpan malu, lalu pada detik berikutnya
kugerakkan ekor mataku demi mencuri sepotong senyummu.
Kini aku melihat diriku
begitu jelas kembali pada waktu itu, ketika satu kali rotasi bumi mampu
membuatku bertanya-tanya tentang gelisah yang membuncah yang tidak tahu kusebut
apakah itu, ketika kau duduk disebelahku mendengarkan ocehan tentang sastra,
drama, puisi hingga lagu kesukaanku. Lalu perlukah kusebut itu semua kenangan
kita? Bilamana yang memilikinya hanya aku seorang.
Aku masih kembali lagi
pada hal yang kusebut ‘kenangan’ itu. Mendapati wajahmu ovalmu, rambut hitammu,
hingga suara khasmu yang memenuhi ruangan ini. Ah, kenangan itu, terasa pahit
ketika aku menyadari yang aku dapati adalah wujudmu yang lagi-lagi dalam
memoriku.
Barangkali kita memang
tidak punya kenangan bersama. Tapi tentangmu masih terus tertulis seperti
sebuah catatan yang akan memenuhi sebuah buku. Barangkali ini memang hanya
menjadi milikku, jikalau dalam keberlanjutan kenangan ini kau masih dilingkupi
ketidaktahuanmu. Jikalau esok atau lusa aku masih diam-diam merajutnya sendiri,
mungkin tentang yang kusebut ‘kita’ tidak akan pernah sampai kepadamu.
Kini aku berdiri dan
bergegas keluar dari ruangan ini, mencoba menghirup udara yang akan menghapus
semua inci dirimu. Kubuka pintu ruangan dengan keyakinan bayanganmu pasti
hilang, namun yang kudapati justru wujud aslimu yang berdiri mematung
menatapku. Sekali lagi, aku kembali pada dirimu yang (mungkin) masih tidak tahu.
Komentar
Posting Komentar