Untukmu, Terima Kasih
Masih
teringat jelas dalam ingatanku, tentang bagaimana disuatu sore kau mengayuh
sepedamu dan aku duduk di belakangmu sembari memelukmu erat. Tanda bahwa aku
percaya kepadamu. Masih pula terasa di helaian rambutku, tentang bagaimana
seringnya tangan kekarmu mengelus kepalaku sembari menatapku dengan pucuk-pucuk
harapan dimatamu. Duhai, aku tidak pernah lupa kau yang tersenyum dengan garis
rahang wajahmu yang selalu aku rindukan.
Masih membekas dalam memoriku, bagaimana kau dulu pernah terbaring tak berdaya karena mungkin Allah tengah menggugurkan dosa-dosamu. Wajahmu yang pucat tampak berjuang meski rasa sakit yang mendatangimu kala itu. Saat itu hatiku begitu takut akan hal-hal yang tak sanggup aku bayangkan. Dan tangan yang maha kuasa sungguh berbaik hati kepadaku, mendengarkan segala doaku, kau akhirnya bisa duduk kembali dengan tegap sebagaimana kau melindungiku selama ini.
Masih tersimpan dalam kenanganku, hari aku mulai melangkah mencari mimpi-mimpiku dan kau beridiri mematung begitu melepas pelukan eratmu untukku, hari itu kau tidak murung, sama sekali tidak. Kau bahkan memberikan senyum terbaikmu yang membuatku yakin untuk melangkah lebih jauh, menggapai lebih tinggi. Aku tahu bagaimana beratnya hatimu ketika melihat aku melangkah mejauh dari rumah, tapi aku tahu kau akan senantiasa mengantarkan doamu untukku yang kini aku juga selalu mendoakan kau akan sehat dan baik-baik saja menunggu aku pulang dengan sepotong mimpi yang aku janjikan.
Aku mungkin jarang untuk menghubungimu, sekedar menyapa bagaimana kabarmu hari ini, apakah kau sehat? Apakah maag-mu tidak pernah kambuh lagi? kau juga jarang untuk menyapa bagaimana aku melewati satu hari lagi jauh dari pandangan matamu. Tapi aku yakin dan tahu bahwa aku dan kau sama, mungkin kita hanya sebatas saling menyebutkan nama dalam doa.
Tidak terasa memang, aku kini berada pada masa dimana aku tidak pantas lagi merengek untuk hal-hal kecil padamu, aku kini harus menjadi perangkai mimpiku sendiri yang mungkin semakin hari semakin sibuk dengan segala rutinitasku. Dan kau masih disana, duduk dikursi rumah sembari tersenyum betapa kini gadis kecilmu telah berubah. Betapa kini kau menunggu aku mengenakan toga dihadapanmu. dan mungkin, kau juga tengah was-was terhadap datangnya pria lain dalam hidupku, berpikir akankah pria lain itu bisa menjagaku seperti kau selama ini untukku.
Selama
ini, mungkin tak pernah sekalipun aku mengucapkan terimakasih kepadamu atas
banting tulangmu, atas perlindunganmu, atas teguranmu, dan atas semuanya yang
kau berikan dalam hidupku. Mungkin
sering pula aku mendebatmu karena keegoisan keinginanku ataupun kebodohanku yang tidak menurutimu – padahal
untuk kebaikanku. Atas itu semua, di tanah rantau yang jaraknya ribuan kilo
dari rumah, dari dirimu. Setulus hatiku aku ucapkan terima kasih untukmu,
terimakasih untuk telah menjadi Ayah terbaik untukku, terimakasih untuk doa dan
dukunganmu. Maaf untuk segala kecerobohanku yang membuatmu khawatir. Tanpa
pengajaran,didikan, dan dukunganmu, aku mungkin tidak melangkah sejauh ini, aku
mungkin tidak tengah mengejar mimpi untuk membanggakanmu. Sekali lagi, ditengah
perjalananku menggapai segala asa, mewujudkan segala cita-cita. Aku ucapkan “terima
kasih, Ayahku”, suatu hari aku akan pulang untuk pelukan sambutanmu,
kebanggaanmu. Dan untuk segala terima kasihku untukmu.
~ salam hangat, Mimiyanti Y~
Komentar
Posting Komentar