Saya dari Bolaang Mongondow
Menanggapi peristiwa Akper Totabuan hari ini, saya jadi ingin berbagi mengenai kebanggaan saya menjadi seorang
anak yang lahir dan tumbuh di tanah Totabuan, Bolaang Mongondow. Jujur saya
kaget dan hati saya terluka dengan adanya mahasiswa Akper Totabuan yang enggan
mengaku berasal dari Kotamobagu. Dalam hati saya bertanya, mengapa? Bahkan hanya
masuk dalam acara Dahsyat sebagai tim hore dan malu terhadap Kotamobagu?
Saya merantau
meninggalkan Bolaang Mongondow sejak lima tahun terakhir. Tapi dalam pertemuan
saya dengan orang-orang baru, saya selalu bangga untuk mengaku sebagai orang
ASLI Bolaang Mongondow. Salah satu dosen saya pernah bertanya “Dimana itu
Kotamobagu?” dengan sabar akan saya jelaskan daerah tercinta saya itu. Di
jurusan saya, Ilmu Politik UI, sebagian besar teman-teman saya tahu bahwa saya
adalah orang yang amat bangga dengan Kotamobagu, tak jarang saya mengajarkan
istilah-istilah bahasa Mongondow kepada teman-teman saya yang berasal dari
berbagai daerah. Pernah saat perkenalan diri di kelas, melihat marga saya
Profesor saya-pernah menjadi Penasihat Presiden RI
untuk masalah Asia Pasifik pada era pemerintahan Gus Dur-bertanya dari
mana asal saya, saya menjawab ‘Kotamobagu’, kemudian Prefesor saya mengatakan “Bolaang
Mongondow yah, saya banyak kenalan orang Kotamobagu. Bagus ini, habis kuliah
pulanglah membangun daerah kamu” mendengar reaksinya saya tersenyum dan untuk
kesekian kalinya bangga berasal dari Bolaang Mongondow. Tidak hanya itu,
beberapa kali saya bertemu dengan peneliti yang mengaku pernah meneliti
masyarakat dan suku Bolaang Mongondow. Bolaang
Mongondow tidak “hina” hingga kau malu mengakuinya kawan.
Januari 2015, kebetulan
saya berkeliling Jawa timur dan di Madiun saya bertemu seorang mantan tentara
yang sudah cukup tua. Begitu tahu saya dari Bolaang Mongondow, beliau amat
bersemangat membahas Bolaang Mongondow
dan mengaku pernah tinggal disana sekitar tahun 1966-1970. Saat itu saya
kembali tersenyum dan semakin bangga. Lihatlah? Bahkan untuk orang yang pernah
singgah di Bolaang Mongondow, masih meninggalkan jejak di hati mereka. Apalagi
kita, orang-orang yang tali pusarnya ditanam di tanah Totabuan, lantas kenapa
harus malu dan enggan mengaku orang Bolaang Mongondow?
Mimpi besar saya adalah
menghadiri konferensi Internasional dan menjelajah ke negeri-negeri orang. Agar
saya bisa lebih bangga memperkenalkan Bolaang
Mongondow kepada Dunia. Bahwa Dunia harus tahu, dibagian utara pulau Sulawesi, ada tanah
Totabuan nan elok dengan masyarakat yang khusyuk dan budaya yang khas. Saya
berharap, pemuda pemudi Bolaang Mongondow lainnya, ketika mendapat kesempatan
untuk tampil di TV nasional, media massa, atau forum nasional dan
Internasional. Dengan bangga, akan memperkanalkan diri “Saya dari Bolaang
Mongondow”.
Tulisan ini, saya
tujukan kepada seluruh pemuda pemudi Bolaang Mongondow dimana pun kalian
berada. Entah sedang menikmati udara Totabuan tercinta, maupun yang sedang
merantau di kota orang. “Dika koliongan, kita komintan intau Mongondow”
banggalah dan syukurilah karena kita terlahir di tanah Totabuan. Tulisan ini
saya tulis dengan kerinduan akan tanah kelahiran saya Bolaang Mongondow sembari
bersenandung lagu “Tobatu’ Lipu”.
Cetaarr.. Kompor Gas!! (Y)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLike
BalasHapuspulkam pulkam...
BalasHapuslike :D
BalasHapus"lahir ditanah totabuan,makan dan minum ditanah totabuan, tinggal ditanah totabuan masa lupa akan tanah totabuan tercinta"
i'm mongondow don't panic!!
i'm pround bron as a mongondow :D
ketika kita lupa akan asal muasal tempat kelahiran kita disitulah kita lupa akan jati diri kita.
ketika kita tidak mengakui tanah kelahiran kita disitulah kita telah menghilangkan identitas bangsa kita.
semoga semua pemuda dan pemudi bolaang mongondow tidak perna melupakan akan tempat kelahiran mereka dan tidak melupakan identitas orang mongondow :D