Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Surat Untuk Ibunda: Selamat Hari Ibu

Untuk ibunda di rumah, Di tanah perantauan yang jauhnya ribuan kilo meter darimu ibunda, izinkan ananda mengirimkan sepucuk salam penuh rindu kepada ibunda di rumah. Barangkali rangkaian kata yang akan aku sampaikan ini tidak akan cukup untuk menceritakan bagaimana engkau mencintaiku sepanjang denyut nadimu. Kalimat-kalimat terima kasihku juga nampaknya tidak layak untuk membalas segala yang engkau berikan dalam hidupku. Namun dalam seuntai surat sederhana ini, aku ingin ibunda tahu bahwa tidak pernah aku menemui orang lain yang lebih mencintaiku dari pada dirinya sendiri kecuali ibunda. Ibunda, entah sudah berkali-kali yang tidak terhitung engkau selalu menjadi orang pertama yang mengerti dan melindungiku, entah sudah berapa banyak malam yang engkau habiskan untuk tidak tidur demi merawatku ketika sakit, dan entah sudah berapa lama engkau habiskan waktunmu untuk menjaga dan merencanakan hidupku. Ibunda, Terima kasih telah menjadi penasehat, penjaga, dan sahabatku. Aku masih me...

Pulang Pada Panggilan Tuhan

Gambar
Judul Novel: Pulang Pengarang: Tere Liye Penerbit: Republika Penerbit Tahun Terbit: 2015 Tebal: 400 halaman “Apakah pernah dalam hidupmu, kau tidak takut dengan apapun? Ketika sensasi keberanian itu memenuhi dadamu?”             Aku mengangguk. ~~~             Novel ini menceritakan tentang sebuah perjalanan pulang, dengan berbagai nasihat dan nilai kehidupan yang seperti biasa selalu tampilkan Tere Liye dalam setiap karyanya. Tokoh utama bernama Bujang pada bagian awal cerita digambarkan sebagai seorang anak lima belas tahun yang tidak lagi memiliki rasa takut. Rasa takutnya hilang setelah mengahadapi seeokor babi hutan besar di rimba Sumatera   yang kemudian membuat dirinya dikenal sebagai “Si Babi Hutan.” Bujang yang merupakan keturunan tukang pukul itupun meninggalkan kampung dan orang tuanya untuk ikut ke kota dan mengabdi pada keluarga Tong. ...

Sepasang Capung Diatas Sungai Siak

Ada hal-hal yang perlu tetap membisu Ada momentum   yang perlu kamu biarkan berlalu Ada waktu yang   mungkin membeku dalam ingatanmu Adalah kamu, yang menjadi bait puisi perpisahan milikku. ~~~             Aku kini tengah duduk di kursi 23E setelah sepuluh menit lalu pesawat yang kutumpangi take off dari bandara Sultan Syarif kasim Pekanbaru. Tangan kananku masih menggenggam benda kecil berwarna perak. Aku lagi-lagi kembali ke memori dusun kecil itu, teringat pada dongeng sepasang capung diatas sungai Siak yang kamu ceritakan. Sepasang capung itu tengah asyik berlari dan menari, tapi mungkin saja semakin mereka menari, mereka akan bergerak ke dua arah yang berbeda. Karena waktu tidak berhenti, sedangkan jarak membentang begitu luasnya. Aku menyadari bahwa   tiga puluh hari mengenalmu memang tidak cukup untuk menjadi alasan kamu atau aku harus berkata sesuatu setengah jam lalu. Tapi aku dipertemukan pada...

Sifon Biru Muda

Lanjutan "tiga puluh menit" ....  “cukup kamu hijrah dan kenakan ini dipertemuan kita selanjutnya jika kamu berkenan untuk menerima saya. Saya akan anggap itu sebagai jawaban kamu” Aku memegang sehelai kain sifon warna biru muda berbentuk segi empat, sembari menatap wajahku yang dipantulkan oleh cermin. Kupertemukan ujung kain sifon itu hingga membentuk segi tiga, kemudian aku melihat kain sifon itu perlahan mendarat diatas kepala yang terpantulkan oleh cermin.  Se pasang mata di cermin itu terlihat berbinar, tersenyum, serta sejalan dengan tekad yang bulat untuk memulai sebuah kewajiban yang selama ini terabaikan. Aku masih terus menatap diriku yang kini terbalut kerudung   biru muda.   Semakin aku menatap diriku, semakin aku teringat pada perkataan Adri dua minggu lalu. Memang kami baru mengenal tujuh bulan terakhir, bahkan belum sampai tujuh kali bertemu. Tapi begitu Adri memintaku untuk hijrah dan memulai langkah baru bersamanya, aku rasa aku t...

Tiga Puluh Menit

Mungkin langit sore ini adalah bagian dari rencana, mungkin langkah kakiku hari ini lebih paham, mungkin pula pertemuan ini akan menjadi sebuah judul baru atau justru menambah BAB cerita tentangmu yang tak kunjung menemui usai Lelaki di hadapanku tersenyum, memperlihatkan keramahannya untuk pertemuan pertama kami. Lelaki itu kemudian menjabat tanganku seraya menyebutkan namanya. Adri. Kamu tahu Sat? Aku memulai perbandingan ini dengan senyumannya . Aku duduk dihadapannya, sembari mencoba mencari ide dikepalaku untuk menghilangkan awkward moment yang kini memenuhi sudut kafe ini. Adri kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir hot cappuccino lalu ia bertanya padaku. “kamu mau minum apa?”. “ Hot chocolate ” jawabku. kamu tidak bisa minum yang berkafein kan Sat? Itu sebabnya kita sama-sama menyukai hot chocolate. Hujan diluar semakin deras, enggan untuk membiarkan matahari sore menunjukan jingganya. Adri memulai percakapan kami, pikiranku masih tidak d...