Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Sepasang Capung Diatas Sungai Siak

Ada hal-hal yang perlu tetap membisu Ada momentum   yang perlu kamu biarkan berlalu Ada waktu yang   mungkin membeku dalam ingatanmu Adalah kamu, yang menjadi bait puisi perpisahan milikku. ~~~             Aku kini tengah duduk di kursi 23E setelah sepuluh menit lalu pesawat yang kutumpangi take off dari bandara Sultan Syarif kasim Pekanbaru. Tangan kananku masih menggenggam benda kecil berwarna perak. Aku lagi-lagi kembali ke memori dusun kecil itu, teringat pada dongeng sepasang capung diatas sungai Siak yang kamu ceritakan. Sepasang capung itu tengah asyik berlari dan menari, tapi mungkin saja semakin mereka menari, mereka akan bergerak ke dua arah yang berbeda. Karena waktu tidak berhenti, sedangkan jarak membentang begitu luasnya. Aku menyadari bahwa   tiga puluh hari mengenalmu memang tidak cukup untuk menjadi alasan kamu atau aku harus berkata sesuatu setengah jam lalu. Tapi aku dipertemukan pada...

Sifon Biru Muda

Lanjutan "tiga puluh menit" ....  “cukup kamu hijrah dan kenakan ini dipertemuan kita selanjutnya jika kamu berkenan untuk menerima saya. Saya akan anggap itu sebagai jawaban kamu” Aku memegang sehelai kain sifon warna biru muda berbentuk segi empat, sembari menatap wajahku yang dipantulkan oleh cermin. Kupertemukan ujung kain sifon itu hingga membentuk segi tiga, kemudian aku melihat kain sifon itu perlahan mendarat diatas kepala yang terpantulkan oleh cermin.  Se pasang mata di cermin itu terlihat berbinar, tersenyum, serta sejalan dengan tekad yang bulat untuk memulai sebuah kewajiban yang selama ini terabaikan. Aku masih terus menatap diriku yang kini terbalut kerudung   biru muda.   Semakin aku menatap diriku, semakin aku teringat pada perkataan Adri dua minggu lalu. Memang kami baru mengenal tujuh bulan terakhir, bahkan belum sampai tujuh kali bertemu. Tapi begitu Adri memintaku untuk hijrah dan memulai langkah baru bersamanya, aku rasa aku t...