Sepasang Capung Diatas Sungai Siak
Ada hal-hal yang perlu tetap membisu Ada momentum yang perlu kamu biarkan berlalu Ada waktu yang mungkin membeku dalam ingatanmu Adalah kamu, yang menjadi bait puisi perpisahan milikku. ~~~ Aku kini tengah duduk di kursi 23E setelah sepuluh menit lalu pesawat yang kutumpangi take off dari bandara Sultan Syarif kasim Pekanbaru. Tangan kananku masih menggenggam benda kecil berwarna perak. Aku lagi-lagi kembali ke memori dusun kecil itu, teringat pada dongeng sepasang capung diatas sungai Siak yang kamu ceritakan. Sepasang capung itu tengah asyik berlari dan menari, tapi mungkin saja semakin mereka menari, mereka akan bergerak ke dua arah yang berbeda. Karena waktu tidak berhenti, sedangkan jarak membentang begitu luasnya. Aku menyadari bahwa tiga puluh hari mengenalmu memang tidak cukup untuk menjadi alasan kamu atau aku harus berkata sesuatu setengah jam lalu. Tapi aku dipertemukan pada...