Untukmu, Terima Kasih
Masih teringat jelas dalam ingatanku, tentang bagaimana disuatu sore kau mengayuh sepedamu dan aku duduk di belakangmu sembari memelukmu erat. Tanda bahwa aku percaya kepadamu. Masih pula terasa di helaian rambutku, tentang bagaimana seringnya tangan kekarmu mengelus kepalaku sembari menatapku dengan pucuk-pucuk harapan dimatamu. Duhai, aku tidak pernah lupa kau yang tersenyum dengan garis rahang wajahmu yang selalu aku rindukan. Masih membekas dalam memoriku, bagaimana kau dulu pernah terbaring tak berdaya karena mungkin Allah tengah menggugurkan dosa-dosamu. Wajahmu yang pucat tampak berjuang meski rasa sakit yang mendatangimu kala itu. Saat itu hatiku begitu takut akan hal-hal yang tak sanggup aku bayangkan. Dan tangan yang maha kuasa sungguh berbaik hati kepadaku, mendengarkan segala doaku, kau akhirnya bisa duduk kembali dengan tegap sebagaimana kau melindungiku selama ini. Ma...