Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Kopandakan 1: Kotanobanku

untuk saya, kamu, dan kita yang sedang merindu                 “Kepada tempat itu, yang telah menjadi saksi saya tumbuh hingga ia membiarkan saya sedikit meninggalkannya untuk sementara. Kepada tempat itu, yang kini saya tujukan pucuk demi pucuk kerinduan akan aroma kampung halaman. Kepada tempat itu,yang saya ikrarkan sebuah janji untuk pulang suatu hari nanti. Kepada tempat itu, yang bernama desa Kopandakan 1...” Bagi orang lain, tempat itu mungkin hanyalah sebuah desa dengan namanya agar manusia bisa menyebutkan titik tempat ia berdiri, atau tempat ia singgah, atau tempat ia menetap, atau tempat ia lahir, atau bahkan tempat ia hidup sepanjang hayatnya. Tapi bagi saya—atau bagi kami mungkin—orang-orang yang terpaksa harus menuntut ilmu ditanah orang lain, tempat itu tidak sebatas nama yang bisa kami sebutkan, melainkan menjadi tempat rindu kami bermuara. Kopandakan 1. Kami yang disebut   ‘maha...

Saya dari Bolaang Mongondow

Menanggapi peristiwa Akper Totabuan hari ini, saya jadi ingin berbagi mengenai kebanggaan saya menjadi seorang anak yang lahir dan tumbuh di tanah Totabuan, Bolaang Mongondow. Jujur saya kaget dan hati saya terluka dengan adanya mahasiswa Akper Totabuan yang enggan mengaku berasal dari Kotamobagu. Dalam hati saya bertanya, mengapa? Bahkan hanya masuk dalam acara Dahsyat sebagai tim hore dan malu terhadap Kotamobagu? Saya merantau meninggalkan Bolaang Mongondow sejak lima tahun terakhir. Tapi dalam pertemuan saya dengan orang-orang baru, saya selalu bangga untuk mengaku sebagai orang ASLI Bolaang Mongondow. Salah satu dosen saya pernah bertanya “Dimana itu Kotamobagu?” dengan sabar akan saya jelaskan daerah tercinta saya itu. Di jurusan saya, Ilmu Politik UI, sebagian besar teman-teman saya tahu bahwa saya adalah orang yang amat bangga dengan Kotamobagu, tak jarang saya mengajarkan istilah-istilah bahasa Mongondow kepada teman-teman saya yang berasal dari berbagai daerah. Pernah saat...