Tiga Puluh Menit
Mungkin langit sore ini adalah bagian dari rencana, mungkin langkah kakiku hari ini lebih paham, mungkin pula pertemuan ini akan menjadi sebuah judul baru atau justru menambah BAB cerita tentangmu yang tak kunjung menemui usai Lelaki di hadapanku tersenyum, memperlihatkan keramahannya untuk pertemuan pertama kami. Lelaki itu kemudian menjabat tanganku seraya menyebutkan namanya. Adri. Kamu tahu Sat? Aku memulai perbandingan ini dengan senyumannya . Aku duduk dihadapannya, sembari mencoba mencari ide dikepalaku untuk menghilangkan awkward moment yang kini memenuhi sudut kafe ini. Adri kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir hot cappuccino lalu ia bertanya padaku. “kamu mau minum apa?”. “ Hot chocolate ” jawabku. kamu tidak bisa minum yang berkafein kan Sat? Itu sebabnya kita sama-sama menyukai hot chocolate. Hujan diluar semakin deras, enggan untuk membiarkan matahari sore menunjukan jingganya. Adri memulai percakapan kami, pikiranku masih tidak d...